Belajar dan Berbagi Ilmu Melalui Blog

LAPORAN BUKU / BOOK REPORT

Judul Buku       : Psikologi Pendidikan

Pengarang         : Drs. M. Dalyono

Penerbit             : Rineka Cipta

Tebal Buku       : 270 halaman

 

  1. A.    Pengantar

Pertumbuhan dan perkembangan anak didik memiliki perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Pertumbuhan fisik mereka secara kasat mata mungkin sebagian dapat diamati oleh indra dan kitapun dapat membuat interpretasi-interpretasi terhadapnya. Kita terkadang memberikan pendapat bahwa si fulan secara jasmani sehat, cukup gizi dan pertumbuhannya baik dengan hanya mendasarkan pada pengamatan indra sesaat, walaupun tidak seratus persen interpretasi tersebut benar. Akan tetapi tidak semua perkembangan jasmasi yang baik juga diikuti dengan kematangan perkembangan psikologinya. Banyak kasus-kasus yang terjadi dalam kehidupan masyarakat orang-orang yang tampak sehat secara lahiriah ternyata secara psikologis dia sakit. Untuk menginterpretasi bahwa seseorang atau siswa sedang mengalami masalah secara psikologis, tidak cukup hanya dengan pegamatan sesaat. Dibutuhkan penanganan yang khusus dan cermat agar seorang guru memperoleh informasi yang lengkap mengenai anak didiknya sehingga akan memudahkannya untuk memberikan treatment.

Dalam menghadapi siswa yang secara psikologis memiliki masalah, guru harus hati-hati dan secara bijaksana merangkul mereka untuk dibimbing dan di arahkan agar dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya. Banyak factor yang melatarbelakangi seorang siswa berprilaku menyimpang dari kebiasaan-kebiasaan yang normatif. Penelusuran terhadap factor-faktor penyebab ini akan membantu guru dalam mendiagnosa masalah yang dihadapi serta langkah apa yang harus dilakukan dalam membantu siswa keluar dari masalahnya. Untuk dapat melakukan semua rangkaian kegiatan tersebut, guru harus memiliki pengetahuan mengenai psikologi anak pada khususnya dan psikologi pendidikan pada umumnya.

Dalam buku Psikologi Pendidikan karangan M. Dalyono ini yang terdiri dari 8 bab, membahas tentang psikologi dalam ranah pendidikan. Pengetahuan tentang psikologi pendidikan, pertumbuhan dan perkembangan anak, teori-teori psikologi tentang belajar, kesulitan anak dalam belajar dan lainnya mengenai dasar psikologi dijelaskan secara rinci. Pengetahuan ini tentunya sangat diprelukan bagi guru untuk dikuasai agar dapat melakukan yang terbaik bagi anak dalam pendidikannya. Muatan isi dari pembahasan ke delapan pokok bahasan tersebut diuraikan secara singkat pada bagian isi.

  1. B.     ISI BUKU

Bab. I Pengertian dan Ruang Lingkup Ilmu Kejiwaan

Dalam bab ini penulis menjelaskan bahwa psikologi berasal dari 2 kata bahasa yunani, yaitu psyche yang bebarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah psikologi berarti ilmu tentang jiwa. Pada umumnya para ilmuan membagi psikologi menjadi 2 golongan, yaitu:

  1. Psikologi Metafisika, yang menyelidiki hakekat jiwa.
  2. Psikologi Empiri, yang menyelidiki gejala-gejala kejiwaan dan tingkah laku manusia dengan menggunakan pengamatan, percobaan dan pengumpulan berbagai macam datayang ada hubungannya dengan gejala-gejala kejiwaan manusia.

Adapun mengenai pendidikan ada beberapa pendapat yang dituliskan diantaranya adalah bahwa pendidikan merupakan sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan. Sehingga psikologi pendidikan dapat didefenisikan ilmu pengetahuan yang menyelidiki gejala-gejala kejiwaan individu atau tingkah lakunya di dalam situasi pendidikan.

Pada dasarnya ilmu jiwa pendidikan adalah sebuah disiplin psikologi yang khusus mempelajari, meneliti dan membahas seluruh tingkah laku manusia yang terlibat dalam proses pendidikan yang meliputi tingkah laku belajar, tingkah laku mengajar, dan tingkah laku belajar mengajar. Inti persoalan psikologi pendidikan dengan tanpa mengabaikan psikologi guru terletak pada siswa. Secara garis besar psikologi pendidikan banyak ilmuan membatasi dalam 3 pokok bahasan, yaitu pokok bahasan mengenai (1) belajar, (2) proses belajar dan (3) situasi belajar.

Di sisi lain, Crow and Crow mengemukakan ruang lingkup psikologi pendidikan antra lain (1) sampai sejauh mana factor hereditas dan lingkungan berpengaruh terhadap belajar, (2) sifat-sifat dari proses belajar, (3) hubungan antara tingkat kematangan dengan kesiapan belajar, (4) signifikansi pendidikan terhadap perbedaan-perbedaan individual dalam kecepatan dan keterbatasan belajar, (5) perubahan selama dalam belajar, (6) hubungan prosedur mengajar dengan hasil belajar, (7) teknik bagi penilaian kemajuan belajar, (8) pengaruh pendidikan formal dibandingkan informal terhadap individu, (9) manfaat nilai ilmiah terhadap pendidikan bagi personel sekolah, dan (10) pengaruh psikologi yang ditimbulkan oleh kondisi sosiologi terhadap sikap siswa.

Dari rangkaian pokok di atas tampak jelas bahwa belajar adalah masalah yang paling vital dalam psikologi pendidikan.

Bab. II Peranan Ilmu Jiwa Pendidikan Dalam Dunia Pendidikan

Dalam bab ini di jelaskan bahwa para pendidik diharapkan memiliki pengetahuan psikologis pendidikan yang sangat memadai agar dapat mendidik para siswa melalui proses belajar mengajar yang berdaya guna dan berhasil guna. Pengetahuan ini akan berguna mempelajari gejala kejiwaan anak, perkembangan anak, minat dan bakatnya, cara belajar dan membimbingnya serta bagaiman mengawasi hasil belajarnya yang tepat.

Menurut Lindgren manfaat psikologi pendidikan adalah untuk membantu para guru dalam mengembangkan pemahaman yang lebih baik mengenai kependidikan dan prosesnya. Sementara itu, Chaplin menitikberatkan manfaat psikologi pendidikan untuk memecahkan masalah-masalah yang terdapat dalam dunia pendidikan dengan cara menggunakan metode-metode yang telah disusun rapi dan sistematis. Dari dua macam pendapat tersebut, secara umum psikologi pendidikan merupakan alat bantu yang penting bagi para penyelenggara pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Hal ini dikarenakan prinsip yang terkandung dalam psikologi pendidikan dpat dijadikan landasan berpikir dan bertindak dalam mengelola proses belajar mengajar.

Setidak-tidaknya ada 10 macam kegiatan pendidikan yang banyak memerluksn prinsip-prinsip psikologi, yaitu (1) seleksi penerimaan siswa baru, (2) perencanaan pendidikan, (3) penyusunan kurikulum, (5) administrasi kependidikan, (6) pemilihan materi pelajaran, (7) interaksi belajar mengajar, (8) pelayanan bimbingan dan penyuluhan, (9) metode mengajar, (10) pengukuran dan evaluasi. Untuk menerapkan prinsip-prinsip psikologi tersebut diperlukan guru-guru yang berkompeten dan bertanggung jawab. Berkompeten artinya bahwa guru mampu melaksanakan profesinya dengan baik dan benar. Adapun bertanggung jawab adalah guru mampu mengelola prose belajar mengajar dengan sebaik-baikny sesuai dengan prinsip-priinsip psikologis.

Dengan adanya perkembangan teknologi sekarang ini, dampaknya jugasanat terasa dalam dunia pendidikan. Banyak teknologi yang dikembangkan untuk media pendidikan yang justru dalam penerapannya jauh dari prinsip-prinsip psikologi. Untuk mengatasi persoalan ini hendaknya dalam proses belajar siswa dibawa kepada keaktifan yang tinggi baik secara fisiologi maupun psikologi.

Bab III Teori – Teori Psikologi Belajar 

Dalam Bab ini dijelaskan dengan berkembangnya psikologi dalam pendidikan muncul pula berbagai aliran psikologi pendidikan yaitu (1) psikologi behavoristik, (2) psikologi kognitif, (3) psikologi humansitik. Dalam setiap periode perkembangan aliran psikologi tersebut, mulcullah teori-teori tentang belajar, yaitu:

  • Teori belajar psikologi behavioristik, yang berendapat bahwa tingkah laku siswa merupakan reaksi-reaksi terhadap lingkunganmereka pada masa lalu dan masa sekarang dan bahwa segenap tingkah laku merupakan hasil belajar. Bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran (reword) dan penguatan (reinforcement). Teori – teori ini dipelopori oleh Thorndike, Pavlov, Watson dan Guthrie.
  • Teori belajar psikologi kognitif, yang berpendapat bahwa tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi. Dalam situasi belajar seseorang terlibat langsung dalm situasi itu dan memperoleh “insight” untuk pemecahan masalah. Insight itu sering dihubungkan dengan pernyataan spontan seperti “aha”, “oh”, “I see now”. Teori – teori ini dipelopori oleh Gestalt, Mex Wertheimer, Lewin, Kurt Koffka dan Wolfgang Kohler.
  • Teori belajar psikologi Humanistis, yang orientasinya utamanya tertuju pada masalah bagaimana tiap-tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan dengan pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Tujuannya adalah untuk membantu siswa mengembangkan dirinya, mengenal dirinya sendiri sebagai mausia yang unik dan membantunya dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Tokoh yang menonjol pada aliran ini adalah Combs Maslov, dan Rogers.

Dengan demikian hal terpenting yang harus diperhatikan adalah tentang tujuan belajar. Bahwa belajar merupakan suatu usaha atau perbuatan yang dilakukan sedara bersungguh-sungguh, sistematis, mendayagunakan semu potensi yang dimiliki baik fisik mental serta dana panca indera, otak dan tubuhserta aspek-aspek kejiwaan sepertiintelegensi, bakat, minat motivasi dan sebagainya. Hal ini dilakukan untuk memperbaiki hidup untuk mencapai cita-cita.

Dalam perjalanannya, dalam pembelajaran harus memperhatikan prinsip-prinsip belajar yang meliputi (1) kematangan jasmani dan rohani, (2) memiliki kesiapan, (3) memahami tujuan, (4) memiliki kesungguhan, (5) ulangan dan latihan.

Selain itu, dalam bab ini juga dijelaskan tentang factor-faktor yang mempengaruhi belajar, antara lain factor internal yang meliputi (1) kesehatan, (2) intelegensi dan bakat, (3) minat dan motivasi, serta (4) cara belajar, dan factor eksternal yang mencakup (1) keluarga, (2) sekolah, (3) masyarakat dan (4) lingkunga sekitar

Bab. IV Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia

Ada dua bagian kondisional pribadi manusia baik secara jasmaniah maupun secara rohaniah, yaitu (1) bagian pribadi materiil yang kuantitatif dan (2) bagian pribadi fungsional yang kualitatif. Pertumbuhan dapat diartikan sebagai perubahan kuantitatif pada materiil sesuatu sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan, sedangkan bagian pribadi fungsinal yang kualitatif mengalami perkembangan.

  1. 1.             Pertumbuhan

Peristiwa pertumbuhan pribadi manusia berawal dari peristiwa awal herediter. Secara genetis manusia terbentuk dari satu sperma dan satu telur. Keduanya mewakili sifat dari orang tuanya yang pada akhirnya akan turun kepada anaknya sebagai individu baru. Dalam perjalanannya, pertumbuhan ini diatur oleh hokum-hukum antara lain (a) pertumbuhan adalah kuantitaif dan kualitatif, (b) pertumbuhan merupakan proses yang berkesinambungan dan teratur, (c) tempo pertumbuhan adalah tidak sama, (d)  taraf perkembangan dari berbagai aspek pertumbuhan adlah tidak sama, (e) kecepatan serta pola pertumbuhan dapat dimodifikasi oleh kondisi-kondisi di dalam dan di luar badan, (f) masing-masing individu tumbu menurut caranya sendiri yang unik, (g) pertumbuhan adalah kompleks, dan semua aspeknya saling berhubungan.

Pertumbuhan yang mengenai tinggi dan berat badan, sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan internal seperti makanan, gizi, perangai, dan lain-lain. Sedangkan kondisi lingkungan eksternal misalnya suhu udara, aktivitas social, dan lain-lain. Dalam kondisi pertumbuhan normal tinggi badan anak dapat ditafsirkan dengan rumus :

  • Tinggi badan anak laki-laki =  (tinggi badan ayah + 100% tinggi badan ibu) / 2
  • Tinggi badan anak perempuan = (tinggi badan ibu + 92% tinggi badan ayah)/ 2
  1. 2.        Perkembangan

Perkembangan pribadi diartikan sebagai perubahan kualitatif dari setiap fungsi kepribadian akibat dari pertumbuhan dan belajar. Setiap fungsi tersebut dapat mengalami perubahan.

Perkembangan tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan. Kematangan pada fungsi jasmaniah sangat mempengaruhi perubahan fungsi-fungsi kejiwaan. Hokum-hukum dalam perkembangan adalah (1) perkembangan adalah kualitatif, (2) perkembangan sangat dipengaruhi oleh proses hasil dari belajar, (3) usia ikut mempengaruhi perkembangan, (4) masing-masing individu mempunyai tempo perkembangan yang berbeda, (5) dalam keseluruhan periode perkembangan setiap spesies perkembangan individu mengikuti pola umum yang sama, (6) perkembangan dipengaruhi oleh hereditas dan lingkungan, (7) perkembangan yang lambat dapat dipercepat, (8) perkembangan meliputi proses individuasi dan integrasi

2.1    Tahap-Tahap Perkembangan

Perkembangan pribadi manusia meliputi perkembangan fisiologis, perkembangan psikologis, perkembangan social dan perkembangan didaktis atau pedagogis.

  1. Perkembangan fisiologis

Menurut Sigmund Freud ada 6 tahap perkembangan fisiologis pada manusia yaitu (a) tahap oral (umur 0 sd sekitar 1 tahun) dimana mulut bayi merupakan daerah utama dari aktivitas dinamis manusia, (b) tahap anal (umur 1 sd 3 tahun) yaitu dorongan dan gerak individu lebih banyak terpusat pada fungsi pembuangan kotoran, (c) tahap falish (umur 3 sd 5 tahun) dimana alat-alat kelamin menjadi perhatian penting, (d) tahap latent (umur 5 sd 12/13 tahun) dimana anak belajar bersosialisasi, fungsi imajinasi, ingatan dan pikiran mulai berkembang, mulai mampu berpikir kritis, (e) tahap pubertas (umur 12/13 sd 20 tahun) dimana kelenjar-kelenjar indoktrin tumbuh pesat dan berfungsi mempercepat pertumbuhan kearah kematangan, (f) tahap genital (setelah umur 20 tahun) yaitu pertumbuhan genital merupakan dorongan penring bagi tingkah laku sesorang.

  1. Perkembangan Psikologis

Menurut Jean Jacques Rousseou perkembangan fungsi dan kapasitas kejiwaan manusia berlangsung dalam 5 tahap, yaitu tahap (a) perkembangan masa bayi (sejak lahir – 2 tahun) dimana perkembangan kepribadian didominasi oleh perasaan, (b) perkembangan masa kanak-kanak (2 s.d 12 tahun) dimana perkembangan pribadi anak dimulai dengan berkembangnya fungsi-fungsi indra anak untuk mengadakan pengmatan, (c) perkembangan pada masa preadolesen (umur 12 s.d 15 tahun) dimana perkembangan fungsi penalaran intelektual pada anak sangat dominan, (d) perkembangan pada masa adolesen (umur 15 s.d 20 tahun) dimana perkembangan terhadap kualitas kehidupan yang diwarnai oleh dorongan seksual yang kuat, (e) masa pematangan diri (setelah umur 20 tahun) dimana perkembangan fungsi kehendak sangat dominan.

Pada perkembangan psikologis secara umum ada kegoncangan psikologis dialami oleh individu yaitu pada masa umur 3 atau 4 tahun dimana anak mulai menemukan “aku”-nya, dan pada masa pubertas.

  1. Tahap perkembangan secara pedagogis

Tahap perkembangan pedagogis dapat ditinjau dari dua sudut pandang yaitu dari sudut tinjauan teknis umum penyelenggaraan pendidikan dan sudut tinjauan teknis khusus perlakuan pendidikan.

Menurut Hohn Amos Comenius, dari sudut tinjauan teknis umum penyelenggaraan pendidikan perkembangan pribadi manusia terdiri atas 5 tahap, yaitu tahap (a) tahap enam tahun pertama, yaitu tahap perkembangan penginderaan sehingga anak mampu mengenal lingkungannya, (b) enam tahun kedua, yaitu tahap perkembangan fungsi ingatan dan imajinasi individu sehingga mampu menganalisis lingkungan dengan kemampuan daya pikirnya, (c) enam tahun ketiga, yaitu perkembangan fungsi intelektual sehingga anak mampu mengevaluasi sifat-sifat serta menemuka hubungan antar variable di dalam lingkungannya, (d) enam tahun keempat, tahap perkembangan berdikari, “ self direction” dan “self controle”, (e) tahap kematangan pribadi, dimana intelek memimpin perkembangan semua aspek kepribadian menuju kematangan pribadi.

Mengenai perkembangan pribadi dari sudut pandang tinjauan teknis khusus perlakuan pendidikan secara otomatis dapat diambil dari tinjauan pertama. Di sini tinggal memberikan perlakuan-perlakuan yangdiperlukan dalam pendidikan, seperti pemeliharaan makanan, pembiasaan untuk hidup teratur, latihan mengindra, member latihan berpikir, memupuk rasa tanggung jawab dan lain-lain.

Di dalam bab ini juga di jelaskan secara singkat tentang teori – teori yang mempunyai pengaruh terhadap parktek-praktek pendidikan di sekolah antara lain teori nativisme, teori konvergensi, teori naturalism, teori rekapitulasi dan teori empirisme.

Bab V. Pembawaan dan lingkungan

5.1 Pembawaan

Setiap individu lahir dengan membawa hereditas tertentu, ini berarti bahwa karakteristik individu diperoleh melalui pewarisan dari pihak orang tuanya dan selebihnya dari nenek dan moyangnya. Warisan atau keturunan memiliki peranan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Para ahli meyakini bahwa hokum mendel mengenai pewarisan sifat berlaku juga untuk manusia. Warisan atau pembawaan yang terpenting adalah:

  1. Bentuk tubuh dan warna kulit
  2. Sifat – sifat

Sifat dan kebiasaan merupakan cora (warna) dari kepribadian seseorang atau suku bangsa. Para ahli telah membagi tipe-tipe manusia berdasarkan sifat yang dimilikinya. Salah satunya dikemukakan oleh Edward Sparanger yaitu (a) manusia ekonomi, yang memiliki sifat hemat, rajin bekerja, (b) manusia teori yang memiliki sifat suka berpikr, meneliti, (c) manusia politik yang suka menguasai dan memerintah, (d) manusia seni yang suka keindahan, (e) manusia agamis yang suka mengabdi dan taat ibadah

  1. Intelegensi, yaitu kemampuan yang bersifat umum untuk mengadakan penyesuaian terhadap suatu situasi atau masalah. Dalam bab ini dijelaskan beberapa teori untuk mengetahui tingkat intelegensi seseorang. Salah satunya adalah tes intelegensi Binert-Simon yang menggunakan persamaan:

,Ket: MA adalah Mental Age, CA adalah Chronological Age.

Interval angka kecerdasannya adalah:

140 – ke atas        = luar biasa cerdas (genius)

120 – 139             = sangat cerdas (superior)

110 – 119             = di atas normal

90 – 109                         = normal

80 – 89               = di bawah normal

70 – 79               = borderline (garis batas)

50 – 69               = debile

26 – 49               = embicile

0  – 25               = idiot

Selain itu masih ada lagi instrument tes intelegensi yang dikembangkan para ahli seperti tes wechler, tes progressive matrics dan tes arny alpha dan beta.

  1. Bakat, yaitu kemampuan khusus yang menonjol diantara berbagai jenis kemampuan yang dimiliki seseorang.
  2. Penyakit atau cacat tubuh, penyakit yang dibawa sejak lahir oleh anak akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.

5.2  Lingkungan

Secara fisiologis, lingkugan meliputi segala kondisi dan material jasmaniah di dalam tubuh seperti gizi, vitamin, air, zat asam, suhu, system saraf, darah, kelenjar-kelenjer indoktrin dan lain-lain.

Secara psikologis, lingkungan mencakup segenap stimulasi yang diterima individumulai sejak dalam konsesi kelahiran sampai matinya. Stimulasi itu misalnya berupa sifat-sifat gen, selera, keinginan, minat, emosi, perasaan, kebutuhan, kapasitas intelektual, dan lain-lain.

Besar kecilnya pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan bergantung kepada keadaan lingkungan anak itu sendiri serta jasmani dan rohaninya. Lingkungan tersebut meliputi lingkungan (a) keluarga, (b) sekolah, (c) masyarakat dan (d) keadaan alam sekitar.

Bab VI. Ciri – Ciri Kematangan

Pada bab ini penulis kembali menjelaskan beberapa prinsip dan teori-teori perkembangan menurut para ahli. Diantaranya teori perkembangan menurut Airstoteles, Charlotte Buchler, Johan Amos Comenius, H.C Witherington dan Masrun,MA.  Khusus tentang prinsip kematangan, bahwa yang dimaksud dengan kematangan adalah kemampuan seseorang untuk berbuat sesuatu dengan cara-cara tertentu. Singkatnya ia telah memiliki intelegensi. Kecerdasan atau intelegensi seseorang member kemungkinan bergerak dan berkembang dalam bidang tertentu dalam kehidupannya.

Perubahan jasmani memerlukan bantuan “motor learning” agar pertumbuhan itu mencapai kematangan. Kematangan atau kondisi fisik baru akan memperoleh pengakuan social apabila individu yang bersangkutan mengusahakan “social learning” ( belajar berinteraksi dengan orang lain atau kelompok serta menyesuaikan diri dengan nilai-nilai serta minat-minat kelompok). Dengan demikian diharapkan individu mencapai tingkat-tingkat kematangannya sesuai dengan tahap-tahap pertumbuhannya, belajarnya dan lingkungan sosialnya.

Kesadaran individu terhadap stimulus di alam sekitar maupun di dalam tubuh di pimpin oleh aktivitas sel-sel khusus di dalam system saraf yang disebut “receptor”. Tingkah laku manusia dapat terbagi atas dua macam, yaitu:

1. “Responden behavior”, yaitu tingkah laku bersarat dan tidak disengaja, selalu tergantung kepada stimulus.

2. “Operan behavior”, yaitu tingkah laku disengaja dan tidak selalu tergantung kepada stimulus.

Setiap jenis tingkah laku, baik yang sengaja atau tidak, memerlukan kematangan fungsi jasmaniah, terutama fungsi-fungsi system saraf, dan fungsi-fungsi vital jasmaniah. Perkembangan struktur dan fungsi otak tampak sempurna atau hamper sempurna pada saat anak tiba masuk pada sekolah dasar.

Kematangan disebabkan karena perubahan “genes” yang menentukan perkembangan struktur fisiologis dalam system saraf, otak dan indra sehingga semua itu memungkinkan individu matangmengadakan reaksi-reaksi terhadap setiap stimulus lingkungan. Menurut English & English, kematangan adalah keadaan atau kondisi bentuk, struktur, dan fungsi yang lengkap atau dewasa pada suatu organism, baik terhadap satu sifat bahkan seringkali semua sifat. Kematangan membentuk sifat dan kekuatan dalam diri untuk bereaksi dengan cara tertentu yang disebut dengan “readiness”, yaitu untuk bertingkah laku baik tingkah laku yang instingtif atau tingkah laku yang dipelajari. Cronbach memberikan readiness sebagai segenap sifat atau kekuatan yang membaut seseorang dapat bereaksi dengan cara tertentu.

Pembentukan readiness anak dipengaruhi oleh lingkungan atau kultur di sekelilingnya. Stimulasi lingkungan serta hambatan-hambatan mental individu mempegaruhi perkembangan mental, kebutuhan, minat, tujuan, perasaan dan karakterindividu yang bersangkutan. Hal ini terjadi karena setiap anak mempunyai perbedaan individual dan sejarah atau latar belakang yang berbeda. Selain itu, kematangan emosional orang tua juga sangat berpengaruh serta menentukan taraf pemuasan kebutuhan-kebutuhan psikologis yang penting pada anak dalam kehidupannya di keluarga.

Emosi orang tua yang telah mencapai kedewasaan menyebabkan perkembangan yang sehat pada anak-anaknya. Sebaliknya emosi orang tua yang belum stabil akan menimbulkan kesukaran-kesukaran dalam usaha anak untuk mendewasakan diri secara emosional atau membebaskan dirinya secara emosional dari orang tuanya.

Bab VII Kemampuan dan Intelegensi

  1. 1.      Kemampuan

Salah satu tujuan dari pendidikan adalah menolong anak mengembangkan potensinya semaksimal mungkin, dan karena itu pendidikan sangat menguntungkan bagi anak maupun bagi masyarakat. Anak didik memandang sekolah sebagai tempat untuk mencari sumber “bekal” yang akan membuka dunia bagi mereka. Orang tua memandang sekolah sebagai tempat dimana anaknyaakan mengembangkan kemampuannya. Bimbingan merupakan sebagian dari pendidikan yang menolong anak mengenal diri serta kemampuannya dan juga dunia di sekitarnya.

Agar dapat menolong anak dalam mengembangkan potensi kepribadian dan kemampuannya, anak harus dikenal dalam segala aspeknya dan dalam konteks (situasi) hidupnya dimana ia hidup. Kita harus mengenal hal-hal yang umum dan khusus pada diri anak. Factor-faktor umum yang harus dikenal adalah (1) hakekat anak, (2) kebutuhan pokok anak dan (3) langkah-langkah perkembangan anak. Ada motto yang berbunyi “ makin kita mengenal diri sendiri, makin kita mengenal orang lain. Makin kita terampil mengembangkan dan mengubah diri sendiri, makin kita berhasil menolong orang mengembangkan diri.

Dalam bab ini juga dijelaskan kembali tentang hokum-hukum perkembangan antara lain (1) hukum konvergensi, yaitu perkembangan manusia pada dasarnya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan, (2) hukum pertahanan dan pengembangan diri, yaitu bahwa manusia atau organisme lainnya memiliki dorongan hasrat mempertahankan diri dari hal-hal yang negative, (3) hukum masa peka, yaitu terdapat masa yang tepat yang terdapat pada diri anak untuk mengembangkan fungsi-fungsi tertentu seperti fungsi mulut untuk berbicara, (4) hukum keperluan belajar, yaitu pada dasarnya anak berkembang karena belajar, (5) hukum tempo perkembangan, yaitu lambat atau cepatnya proses perkembangangan seseorang tidak sama dengan orag lain, (6) hukum irama perkembangan, yaitu bahwa perkembangan manusia tidak tetap terkadang naik terkadang turun, (7) hukum rekapitulasi yaitu bahwa perkembangan individu mencerminkan evolusi kehidupn jenis mahluk hidup dari tingkat yag paling sederhana ke tingkt yang paling kompleks.

  1. Inteligensi

Pada sub ini diuraikan beberapa defenisi tentang inteligensi antara lain yang dikemukakan oleh Super dan Cites, Garret, Bischof, dan Heidentich. Dari beberapa pendapat tentang inteligensi maka dapat ditarik kesimpulan inteligensi merupakan kemampuan untuk dapat memecahkan suatu masalah dalam segala situasi yang baru atau yang mengandung masalah.

Terdapat beberapa teori yang menjelaskan tentang inteligensi yaitu (1) teori “uni-factor”, yaitu yang memandang bahwa inteligensi merupakan kapasitas atau kemampuan umum, (2) teori “two factor”, yaitu teori inteligensi yang dikembangkan berdasarkan suatu factor mental umum yang diberi kode “g” serta factor-faktor spesifik yang diberi tanda “s”, (3) teori “multi-factor”, yaitu bahwa inteligensi terdiri dari bentuk hubungan-hubungan neural antara stimulus dan respon, (4) teori “ primary-mental-abilities”, yang menjelaskan bahwa inteligensi merupakan penjelmaan dari kemampuan pribadi / kemampuan primer (5) teori “sampling”, yaitu teori yang menjelaskan bahwa inteligensi merupakan berbagai kemampuan sampel.

Setiap orang memiliki inteligensi yang berbeda, hal ini dipengaruhi oleh pembawaan, kematangan, pembentukan, minta dan pembawaan yang khas serta kebebasan. Dan dari banyak penelitian yang dilakukan membuktikan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara inteligensi pria dan wanita. Walaupun antara pria dan wanita masing-masing memiliki kelebihan. Sampai saat ini ilmu pengetahuan belum dapat menjelaskan tentang pewarisan intelegensi.

  1. CBSA

Dalam bab ini juga dijelaskan tentang Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), yaitu suatu proses kegitan belajar mengajar yang subyek didiknya terlibat secara intelektual dan emosional sehingga benar-benar berpartisipasi aktif dalam melakukan kegiatan belajar. Indicator untuk menilai cara belajar siswa aktif dalam KBM adalah dapat dilihat dari sudut pandang (1) siswa, (2) guru, (3) program, (4) stuasi belajar, dan (5) sarana belajar.

Penerapan CBSA dalam KBM melalui tahap perencanaan dan pelaksanaan termasuk penilaian. Agar pelaksanaannya menjadi optimal, maka dalam KBM perlu memperhatikan prinsip-prinsip belajar antara lain: (1) stimulasi belajar, (2) perhatian dan motivasi, (3) respon yang dipelajari, (4) penguatan dan (5) pemakaian dan pemindahan.

Bab VIII  Tipe-Tipe Dan Kesulitan Belajar

Mengawali pembahasan pada bab ini, dijelaskanterlebih dahulu tentang definisi belajar dari beberapa ahli. Dari uraian pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar merupakan perubahan; dalam tingkah laku, yang terjadi melalui latihan atau pengalaman, relative mantap, dan perubahan dalam pengertian pemecahan suatu masalah/berpikir keterampilan, kecakapan, kebiasaan atau sikap.

Berpikir rasional dan kritis adalah perwujudan perilaku belajar terutama yang bertalian dengan pemecahan masalah. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah (1) sikap, (2) inhibisi, (3) apresiasi, (5)tingkah laku afektif. Selain itu juga dijelaskan tentang aktivitas belajar yang meliputi mendengarkan, memandang, meraba, membau dan mencicipi, menulis dan mencatatnya, (6) membaca, (7) membuat iktisar atau ragkuma, (7) mengamati table-tabel, digram dan bagan, (8) menysun kertas kerja,paper danlain-lain.

Keanekaragaman jenis belajar muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan-kebutuhan kehidupan manusia yang bermacam-macam. Tipe-tipe belajar tersebut antara laian: (1) belajar abstrak, (2) belajar keterampilan, (3) belajar social, (4) belajar pemecahan masalah, (5) belajar rasional, (6) belajar kebisaan, (7) belajar apresiasi dan (8) belajar pengetahuan

Aktivitas belajar setiap individu tidak selamanya berlangsung secara wajar. Dalamm keadaan siswa tidak dapat belajar sebagimana mestinya disebut sebagai kesulitan belajar. Kesulitan belajar dipengaruhi oleh: (1) factor dari diri manusia sendiri (fisiologi dan psikologi), (2) factor eksternal (factor nonssial, dan (3) factor karena cacat tubuh, (4) factor keluarga

Beberapa gejala sebagai pertanda ada kesulitan belajar pada diri siswa adalah:

  1. Menunjukkan prestasi yang rendah/dibawah rat-rata.
  2. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilaukan.
  3. Lamban dalam melakukan tugas-tugas belajar.
  4. Menunjukkan sikap yang kurang wajar,
  5. Menunjukkan tingkah laku yang berlainan

Di samping gejala-gejala yang tampak tersebut, guru juga dapat melakukan penyelidikan melalui (1) observasi, (2) interview, (3) tes diagnostic dan (4) dokumentasi. Setelah itu dilakukan usaha untuk mengatasi masalah melalui langkah (1) pengumpulan data, (2) pengolahan data, (3) diagnosis, (4) prognosis, (5) treatment dan (6) evaluasi.

  1. C.    KELEBIHAN / KEUNGGULAN BUKU

Buku karangan M Dalyono ini memiliki kelebihan antara lain:

  1. Materi dijelaskan secara runtut sehingga Nampak keterkaitan yang jelas antara materi pada bab berikut dengan bab sebelumnya.
  2. Aspek-aspek pengetahuan psikologi pendidikan dijelaskan secara detail, mulai dari pengertian psikologi pendidikan itu sendiri, teori-teori psikologi belajar, perkembangan dan pertumbuhan serta hal-hal yang berkaitan dengan karakteristik psikologi anak serta kesulitan-kesulitan dalam belajarnya.
  3. Bahasa yang digunakan dalam buku ini mudah dimengerti sehingga bagi siapa saja yag membacanya akan mudah memahami maksudnya.
  4.  Dan lain – lain.
  1. KELEMAHAN BUKU

Sangat sulit sekali bagi kami untuk menguraikan kelemahan bagi buku psikologi karangan M Dalyono ini, karena memang jika ditinjau dari segi konten dan cara penyajiannya menurut kami sudah sangat baik. Namun secara praktis kami menilai dari sudut pandang kami bahwa kekurangan buku ini antara lain:

  1. Tidak disajikan contoh dalam buku ini dalam menjelaskan materi tentang sesuatu yang aplikatif sehingga tidak tampak efek dari pengetahuan psikologi itu. Sebagai contoh tentang kesulitan belajar, akan lebih baik jika diiringi dengan contoh sekaligus beberapa alternative pemecahannya.
  2. Tidak diberikan contoh instrument untuk menyelidiki siswa yang mengalami kesulitan belajar, misalnya instrument untuk observasi, interview dan lain-lain.
  3. E.     PENDAPAT / KOMENTAR

Buku psikologi pendidikan karangan M Dalyono ini sangat baik dimiliki oleh calon guru, guru dan dosen untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman yang jelas mengenai pentingnya psikologi pendidikan dalam upaya membantu siswa untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dari seluruh aspek psikologi. Dengan mempelajari buku ini kita akan dapat memiliki pengetahuan tentang dasar-dasar psikologi dalam pendidikan. Dengan demikian segala upaya yang dilakukan terhadap siswa merupakan tindakan yang didasari dengan penuh cinta.

Oleh karena dari segi konten dan cara penyajiannya cukup baik, maka buku ini  banyak memberikan manfaat bagi pengajar sehingga dicari. Hal ini dibuktikan bahwa buku ini telah mengalami beberapa kali cetak ulang untuk memenuhi permintaan pembaca. Pada tahun 2009 buku ini dicatak ulang untuk yang kelima kalinya.

  1. F.     KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas, mengenai pembahasan isi dalam buku psikologi karangan M Dalyono ini, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain:

  1. Psikologi pendidikan adalah sebuah pengetahuan tentang kejiwaan peserta didik dalam mengikuti proses belajar mengajar. Ilmu jiwa pendidikan menitikberatkan kepada proses pendidikan yang efisien, dimana aspek-aspek psikologi di perhatikan.
  2. Sudah tiba masanya sekarang pendidikan di Indonesia hendaknya lebih melayani kebutuhan dan hakekat psikologis anak didik. Pendidikan harus mempunyai kreasi-kreasi baru yang berorientasi kepada sifat dan hakekat anak didik.
  3. Pengetahuan tentang teori-teori psikologi belajar akan sangat bermanfaat bagi guru dalam membantu anak didik dalam menemukan cara yang terbaik bagi dirinya unruk melakukan pembelajaran yang lebih baik.
  4. Pertumbuhan pada manusia dapat diartikan sebagai perubahan kuantitatif pada materiil sebagai suatu akibat adanya pengaruh lingkungan. Sedangkan perkembangan merujuk pada perubahan secara kualitatif pada segi fungsional. Pertumbuhan dan perkembangan anak didik berbeda natara yang satu dengan yang lain. Hal ini sangat tergantung oleh factor-faktor  yang mempengaruhiya.
  5. Inteligensi anak didik sangat berpengaruh terhadap proses belajar mengajar di kelas. Inteligensi itu sendiri sangat dipengaruhi oleh pembawaan, kematangan, pembentukan, minta dan pembawaan yang khas dan kebebasan. Inteligensi antara pria dan wanita pada umumnya tidak meiliki perbedaan secara signifikan.
  6. Pada dasarnya anak didik sering mengalami kesulitan dalam belajarnya. Kesulitan belajar antara yang satu dengan yang lain tidak sama. Hal ini sangat tergantung dari factor-faktor yang mempengaruhinya. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang baik dan optimal, guru harus membantu anak didik keluar dari masalahnya dan bahkan dapat mengatasi masalahnya sendiri jika terjadi kembali. Dengan pengetahuan psikologi, guru harus memberikan bantuan yang terbaik bagi mereka melalui metode yang tepat dan penuh dengan cinta.

Dirangkum oleh: Eko Khoerul Nurnawawi

email: eko_khoerul@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: